Tampilkan postingan dengan label SIRAH NABAWI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SIRAH NABAWI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 September 2017

Abdullah bin Abbas, Pendamping Kecil Nabi


ISLAMONLIFE - Kisah Abdullah bin Abbas yg merupakan teman masa mini   Nabi Muhammad SAW bisa memberi kita pelajaran bagaimana menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Allah & pentingnya ilmu pengetahuan yg komprehensif.

Sebagai manusia, kita mempunyai banyak kekurangan yg membutuhkan panutan buat menjalani kehidupan yang kita jalani. Oleh karenanya, kita akan membaca kisah Nabi Muhammad SAW yaitu Abdullah bin Abbas dan mengambil pelajaran berharga darinya.

Abdullah bin Abbas adalah sepupu Nabi dan putra pamannya, yaitu Abbas bin Abdul Muttalib. Dia adalah salah satu teman masa kecil Nabi yang masuk Islam saat masih muda. Inilah kisah sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Abbas.

Sebagai seorang anak, ia sudah mendapat perhatian dari Sang Utusan Allah yang mulia itu.

Seringkali Nabi Muhammad SAW menanamkan ajaran Islam pada sahabat kecilnya ini. Suatu saat, Nabi sedang berjalan menyusuri desa. Pada saat itu, Nabi menyuruh Abbas untuk mematuhi perintah Allah kepada Allahnya.

Jika dia menjauh dari larangan-Nya maka Allah akan mendekatinya. Ketika dia mengenal Allah maka ketika berduka, Allah akan bersamanya. Jika dia membutuhkan pertolongan, maka mintalah kepada Allah. Percayalah bahwa segala sesuatu ditakdirkan oleh Allah. Jika seluruh dunia setuju untuk membantu, tapi jika Allah tidak mengizinkan, maka hal itu tidak akan terjadi.

Sebaliknya, jika semua orang berkumpul untuk menolaknya, tapi jika Allah telah memutuskan tidak terjadi, maka hal itu tidak akan terjadi. Nabi Muhammad SAW juga menyuruhnya untuk melakukan kegiatan dengan ikhlas dan iman. Kesabaran akan membawa hasil positif, kemenangan akan tercapai dengan kesabaran, dan kesuksesan melewati penderitaan, dan kemudahan itu akan datang setelah mengalami kesulitan.
Itulah nasihat Nabi kepada Abbas.
Ajaran Nabi Muhammad (SAW) ini membuat Abbas sebagai teman masa kecil yang haus akan ilmu dan setia kepada imannya. Suatu saat, dia melihat bagaimana Nabi sholat dan dia tinggal di rumah bibinya yang merupakan salah satu istri Nabi, yaitu Maimunah binti Harith. Ini yang menjadikan Abdullah bin Abbas berpengetahuan luas sejak usia muda.

Saat Rasulullah SAW akan sholat di malam hari, Abdullah segera siap menyiapkan air untuk berwudhu. Saat itu ia jelas melihat bagaimana Rasul berwudhu. Nabi menjadi imam shalat dan Maimunah ada di belakang bersama Abdullah. Saat dia berdiri di belakang Rasul, dia menjadi sering bersamanya.

Tapi tak lama kemudian, dia kembali menarik diri karena merasa tidak pantas untuk selaras dengan Nabi. Selain itu, ia juga sering mendengarkan Majelis Rasulullah. Dia selalu mendengar dan menghafal setiap ajaran yang diberikan oleh Nabi.

Ketika Rasulullah wafat, Abdullah berumur tiga belas tahun. Dia merasa kehilangna sosok yang sangat inspiratif sebagai sumber sainsnya. Namun, Abdullah tidak terlalu lama berduka dan cepat bangkit. Mulai dari tempat dia berdiri mendapatkan ilmu. Dia berniat untuk terus meningkatkan ilmu pengetahuan melalui sahabat-shabat Nabi.

Memang, dia bertanya teman-temannya ke teman yang lain, meski tidak ada yang bisa menanggapinya. Akhirnya dia hanya belajar sendiri kepada sahabat Rasul untuk bertanya tentang Islam dan Hadis. Ketulusan sahabat Rasulullah sejak kecil ini dalam belajar bisa kita lihat dari berbagai upayanya. Jika dia mendengar kabar tentang orang yang hafal satu hadits, dia langsung menemui dia untuk bertanya tentang hal itu.

Tidak hanya hafal hadits, tapi dia juga meneliti sumber hadis. Pastinya, dia pernah meminta kepada tiga puluh sahabat nabi untuk mengajukan pertanyaan. Demikian kisah Abdullah bin Abbas pendamping kecil Nabi.
Read more

Senin, 04 September 2017

Rasulullah dan Pengemis Yahudi Buta


ISLAMONLIFE - Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah noticed mendatanginya dengan membawakan makanan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Muhammad—orang yang selalu ia caci maki dan sumpah serapahi.

Rasulullah saw melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah saw praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abu Bakar berkunjung ke rumah anaknya Aisyah, yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah. Ia bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?”

Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”

“Apakah itu?” tanya Abu Bakar penasaran. Ia kaget juga karena merasa sudah mengetahui semua kebiasaan Rasulullah semasa hidupnya.

“Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana,” kata Aisyah.

Keesokan harinya Abu Bakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?”

Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa.”

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu dengan ketus. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku.”

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw.”

Seketika itu juga kaget pengemis itu. Ia pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ”

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar saat itu juga dan sejak hari itu menjadi Muslim.
Read more

Minggu, 16 Juli 2017

Kesederhanaan Dan Kedermawanan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam



ISLAMONLIFE - Suatu hari ‘Umar bin Khaththab r.a. menemui Rasulullah SAW di kamar beliau, lalu ‘Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah lapuk. Jejak tikar itu membekas di belikat beliau, sebuah bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau, dan jalur kulit samakan membekas di kepala beliau. Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang. Di bawah dinding terdapat qarzh (semacam tumbuhan untuk menyamak kulit). Air mata ‘Umar bin Khaththab r.a. meleleh. Ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi pimpinan tertinggi umat Islam itu. Rasulullah SAW melihat air mata ‘Umar r.a. yang berjatuhan, lalu bertanya “Apa yang membuatmu menangis, Ibnu Khaththab?” ‘Umar r.a. menjawab dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata dan perasaannya yang terbakar, “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda, sedangkan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan Kaisar duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia pilihan Allah!”

Lalu Rasulullah SAW menjawab dengan senyum tersungging di bibir beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?” Umar menjawab, “Aku rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad)

Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sebaiknya Anda memakai tikar yang lebih lembut dari tikar ini.”
Lalu, Rasulullah SAW menjawab dengan khusyuk dan merendah diri, “Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaan diriku dengan dunia itu tidak lain seperti orang yang berkendara di suatu hari di musim panas, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Dari Jabir bin Abdillah ia berkata: Tidak pernah sama sekali Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dimintai sesuatu lalu beliau berkata, "Tidak". (HR. Muslim)

Dalam kesaksian sahabat yang lain, Anas bin Malik, ia berkata: Tidaklah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam diminta sesuatu atas nama Islam kecuali beliau akan memberikannya. Anas berkata:

جَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ

"Ada seseorang yang datang kepadanya lalu beliau memberinya kambing sebanyak antara dua gunung. Kemudian ia pulang ke kaumnya dan berkata: wahai kaumku, masuklah Islam, sesungguhnya Muhammad akan memberi yang banyak seakan ia tidak pernah takut kemiskinan." (HR. Muslim)

Yakni apabila ada seseorang yang meminta harta kepada beliau atas nama Islam –maksudnya: untuk menjinakkan hatinya agar masuk Islam- pasti beliau memberinya, sebanyak apapun itu. Sampai-sampai disebutkan dalam hadits di atas, ada seorang badui yang meminta, lalu beliau memberikan kepadanya kambing yang sangat banyak. Beliau memberikan semua itu karena ada sesuatu yang diharapkan darinya, yakni keislaman dirinya dan orang-orang yang ada di belakangnya.

Melalui kedermawanan beliau ini, orang tadi pulang menemui kaumnya dan mengajak mereka masuk Islam. Dan ternyata benar, orang tadi sangat terpukau dengan akhlak Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam ini sehingga ia menjadi da'i (pendakwah) yang mengajak kaumnya kepada Islam. Ia menyerul "Wahai kaum, masuklah Islam! sesungguhnya Muhammad akan memberi yang banyak seakan ia tidak pernah takut kemiskinan." ia tidak berkata, masuklah Islam niscaya kalian akan masuk surga dan selamat dari neraka.

Apabila mereka masuk Islam karena harta maka itu tidak berlangsung lama. Setelah mereka mengenal Islam maka jadilah agama barunya ini menjadi sesuatu yang paling dicintai olehnya, lebih ia cintai dari dunia seisinya. Inilah tujuan yang dikehendaki Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Dari memberikan harta yang banyak kepada orang yang dijinakkan hatinya.

Itulah kesederhanaan hidup yang dicontohkan Rasulullah. Beliau adalah tipe manusia yang paling sederhana di kolong jagad ini. Tidak gemar menumpuk harta, kecuali hanya untuk modal hidup. Dapat dipahami jika saat wafat, baju besi beliau digadaikan kepada seorang Yahudi untuk ditukar dengan gandum sebagai warisan bagi keluarga beliau.

Sebagai pemimpin yang menggenggam kekuasaan dan pengaruh besar, tentu Rasulullah mampu hidup bergelimang harta. Tetapi beliau lebih memilih hidup secara sederhana. Posisi terpandang dan disegani seluruh masyarakat Arab tidak lantas beliau manfaatkan sebagai batu loncatan untuk mengeruk kekayaan bagi diri dan sanak famili.

Itulah yang membedakan Rasulullah dengan pemimpin kebanyakan. Beliau menjadi besar karena membesarkan umat. Bukan memperalat umat demi membesarkan nama pribadi. Gelar Al-Amin sudah melekat pada nama beliau sedari muda. Gelar mulia itu diakui oleh kawan sekaligus lawan.

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Sejak berpindah ke Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5274)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Kami, keluarga Muhammad sering hidup selama satu bulan tidak menyalakan api (memasak), karena makananannya hanya kurma dan air. (Shahih Muslim No.5280)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Ketika Rasulullah wafat, di lemariku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan manusia, kecuali setengah roti gandum yang berada dalam sebuah lemari milikku lalu aku memakan sebagian untuk beberapa lama, kemudian aku timbang ternyata telah habis. (Shahih Muslim No.5281)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah wafat ketika orang-orang sudah kenyang memakan kurma dan air. (Shahih Muslim No.5284)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Dalam riwayat Ibnu Abbad: Demi Tuhan yang jiwa Abu Hurairah berada dalam genggaman-Nya, belum pernah Rasulullah membuat keluarganya kenyang selama tiga hari berturut-turut dengan roti gandum sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5286)
Read more

Sabtu, 03 Juni 2017

Cinta Tanpa Batas dari Rasulullah SAW kepada Siti Khadijah r.a



ISLAMONLIFE - Kisah cinta Muhammad SAW dengan Khadijah seolah tidak pernah lekang ditelan zaman. Dari sinilah kita sanggup belajar  bagaimana menumbuhkan cinta sejati itu memang tak berhenti sampai pasangan berkalang tanah. Cinta Muhammad pada Khadijah memang sangat fenomenal, sampai-sampai pengakuan oleh Nabi sangat menggetarkan hati, Cintanya pada oleh belahan hati, tiada terperi.


Nabi Muhammad saw pernah mengalami masa-masa kesedihan yang sangat dalam. Masa-masa berkabung & kehilangan orang-orang yang dicintainya secara berturut-turut (‘am-huzn) yakni, waktu meninggalnya sang paman, Abu Thalib, dan oleh Istri tercinta Khatijah yg tewas pada tahun yang sama.

Khadijah sangat dicintai dan dihormatinya, walau jeda usia dia terpaut 15 tahun, tetapi tak sedikitpun mengurangi rasa sayangnya. Hingga dia enggan membuatkan hati dengan yg lain sebelum Khadijah wafat. Memang beliau seorang perempuan   istimewa, yang serasa tak terganti. Memantapkan diri memeluk Islam waktu tidak terdapat seorangpun yg percaya dalam dakwah pertama Nabi saw.

Sebagai penyangga jiwa yang mulai melemah, hingga beliau jadi kuat kembali waktu dakwahnya mengalami jalan buntu. Seorang wanita pembela & pendamping yg sangat setia, memberikan semua harta kekayaannya untuk jihad agama. Bagi Nabi, Khadijah merupakan wanita yg istimewa. Sehingga banyak sekali kesempatan pun, meski beliau telah beristri balik , masih jua memuji Khadijah, yg menciptakan cemburu Aisyah.

Pada sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, diceritakan Nabi saw sedang bercengkrama di depan rumah mereka. Tiba-tiba melintaslah  seorang perempuan tua. Nabi saw segera mempersilahkan perempuan tua itu masuk rumah, digelarnya sorban sebagai alas duduknya. Keduanya lalu bercakap-cakap. Saat perempuan tua itu berlalu, Aisyah menanyakan perihal tamu yang terlihat sangat istimewa dimata nabi. 

“Perempuan tua itu mengingatkanku pada Khatijah, saat dia masih hidup, perempuan itu sering datang kerumahnya, dan Khadijah selalu menyambutnya dengan penuh rasa hormat. Aku menghormatinya sebagaimana Khadijah dulu melakukannya.”cerita Nabi Muhammad saw.

Aisyah sepertinya cemburu mendengar penuturan itu, seperti wanita normal lainnya, hingga tak sadar ia berkata,” Masih saja menyebut-sebut perempuan yang sudah mati itu. Bukankah sekarang telah ada perempuan pengganti yang lebih baik dari dirinya?”

Mendengar perkataan istrinya, Aisyiah, Nabi saw nampak memerah raut wajahnya, seperti saat menerima titah Illahiyah  atau sedang marah besar. Namun jelas sekali kali ini nampak beliau sedang marah.

“Aisyiah perlu kau tahu, Allah tidak akan mendatangkan pengganti sebaik atau lebih baik dari Khadijah! Tidak akan lagi ada perempuan seperti dia!”, kata Nabi Muhammad saw sambil menghadapkan wajahnya pada Aisyah.

“..Ia telah terjaga akan kenabianku ketika orang lain terlelap berselimut jahiliyah, ia juga selalu membenarkan ucapanku saat yang lain menganggapnya sebagai bualan, Ia bahkan tak segan memberikan seluruh hartanya padaku dengan ikhlas saat orang lain menyembunyikan tangan, dan darinya Allah memberiku keturunan ketika dari istriku yang lain tidak. Kau perlu tahu semua itu, Aisyah!”

Nampak benar Nabi terlihat marah besar, karena Khadijah adalah seseorang yang sangat mempengaruhi perjalanan kehidupan beliau, setitik cahaya terang diantara pekatnya malam nan gelap. Nabi merasa waktu boleh berlalu, yang hilang tak kembali dapat pengganti, namun Khadijah tetap ada dihati beliau karena kemuliaan hatinya dan cinta selalu tertancap dengan tepat didadanya.

Mulai saat itu Aisyiah memahami, seberapa besar cinta Nabi Muhammad kepada pendamping hidupnya, Khadijah. Kematian tak mematikan rasa cinta tak bertepi sang Nabi kepada Khadijah, istrinya. Posisinya sangat istimewa, dan itu tak terganti oleh siapapun. Kisah cinta yang sangat mengharukan, seharusnyalah kita mengambil hikmah terdalam, agar bisa saling mencintai, menyayangi seperti layaknya Nabi Muhammad kepada Khadijah.

Referensi:
-Dr. Abd. Hamid bin Abd. Rahman as-Suhaibani, Meneladani Wanita Generasi Sahabat, Pustaka Darul Haq, Jakarta: 2006 
Read more

Rabu, 26 April 2017

BAGAIMANA PERASAAN KITA JIKA MENDAPATKAN UCAPAN CINTA DARI RASULULLAH SAW


ISLAMONLIFE-  Mari kita simak dan renungkan tulisan dibawah ini 👇


1) Apa kiranya perasaan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a saat Nabiﷺ bersabda, "Andai kuambil kekasih di antara insan, pasti kujadikan Abu Bakar sebagai Khalilku."

2) Apa kiranya perasaan 'Umar bin Khattab r.a saat dia berpamit 'umrah dan Nabiﷺ bersabda padanya, "Jangan lupakan kami dalam do'amu duhai saudaraku tersayang."

3) Apa kiranya perasaan 'Utsman bin Affan r.a saat membekali pasukan Tabuk dan Nabiﷺ bersabda, "Tiada yang membahayakan 'Utsman apapun setelah ia lakukan ini."

4) Apa kiranya perasaan 'Ali bin Abi Thalib r.a tatkala Nabiﷺ bersabda, "Bahwasanya kedudukanmu di sisiku laksana Harun di sisi Musa, tapi tiada Nabi sesudahku."

5) Apa kiranya perasaan Thalhah r.a saat Nabiﷺ bersabda, "Siapa yang ingin melihat syahid yang masih berjalan di atas bumi, lihatlah Thalhah."

6) Apa kiranya perasaan Az Zubair r.a saat Rasulullahﷺ bersabda, "Setiap Nabi memiliki Hawari, dan Hawariku adalah Zubair bin 'Awwam"

7) Apa kiranya perasaan Abu 'Ubaidah r.a saat Nabiﷺ bersabda, "Setiap ummat memiliki Amin, dan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu 'Ubaidah."

8) Apa kiranya perasaan 'Abdurrahman bin 'Auf r.a saat dirinyalah dimaksud oleh sabda Nabiﷺ kepada Khalid bin Al Walid r.a, "Jangan cela sahabatku. Demi Allah andai kalian berinfak emas seberat gunung Uhud, hal itu tidak akan menyamai shadaqah segenggam atau setengah genggam tepungnya."

9) Apa kiranya perasaan Mu'adz bin Jabal r.a, di saat Rasulullahﷺ bersabda padanya, "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu."

10) Apa kiranya perasaan Ibnu 'Abbas r.a, saat Nabiﷺ merengkuh dan mencium kepalanya lalu berdo'a, "Ya Allah faqihkan dia dan ajarkan tafsir padanya."

11) Apa kiranya perasaan Ubay bin Ka'ab r.a, saat Nabiﷺ berkata padanya, "Allah memerintahkanku untuk membacakan Surat Al Bayyinah ini kepadamu", hingga dengan wajah berseri-seri dia bertanya, "Ya Rasulullah, benarkah Allah menyebut namaku kepadamu?" dan Nabiﷺ menjawab, "Benar."

12) Apa kiranya perasaan Abu Musa Al Asy'ari r.a, di saat Nabiﷺ bersabda, "Esok datanglah menjumpaiku, aku ingin mendengarkan bacaan Qur'an-mu."

13) Apa kiranya perasaan 'Aisyah r.a, saat Nabiﷺ menyebut namanya tanpa ragu di urutan pertama, kala ditanya 'Amr, "Siapakah yang paling engkau cintai Ya Rasulullah?"

14) Apa kiranya perasaan Ibnu Mas'ud r.a, kala betis kecilnya ditertawakan; maka Nabiﷺ bersabda, "Betis itu di sisi Allah lebih berat dari Uhud."

15) Apa kiranya perasaan 'Ukasyah r.a, saat disebut 70.000 orang masuk ke surga tanpa hisab dan Nabiﷺ berkata, "Engkau termasuk di antara mereka."

16) Apa kiranya perasaan Bilal bin Rabah r.a, saat Nabiﷺ bersabda, "Ceritakan padaku hai Bilal, 'amal apakah yang paling kau jaga dalam Islam, sebab sungguh aku mendengar bunyi terompahmu di surga?", lalu dia menjawab dengan tersipu, "Menjaga wudhu' dan dua raka'at syukur atas wudhu."

17) Apa kiranya perasaan orang-orang Anshar, di kala Nabiﷺ bersabda, "Jika manusia memilih jalan melalui sebuah lembah, sedang kaum Anshar mengambil suatu celah, niscaya aku turut serta di celah yang dilalui para Anshar. Ya Allah rahmatilah Anshar dan anak-cucu kaum Anshar."

Apa kiranya perasaan para sahabat, yang mereka berjumpa Nabiﷺ pada petang dan pagi, berjalan mengiringi beliau, memperoleh senyum dan do'anya?

Apa kiranya perasaan kita saat kelak bertemu Nabiﷺ dan para Sahabatnya?
***
"Aku rindu....aku rindu...." Kata Rasulullahﷺ ketika sedang duduk bersama para Sahabatnya

Dan Sahabatpun bertanya, "Kepada siapa engkau rindu Ya Rasulullah?"

"Aku rindu kepada saudara-saudaraku."

"Bukankah kami ini saudara-saudaramu Ya Rasulullah?"

"Kalian sahabat-sahabatku dan aku mencintai kalian, namun aku rindu kepada saudara-saudaraku."

"Siapa mereka Ya Rasulullah, yang engkau panggil mereka dengan sebutan saudaramu dan engkau rindukan itu?"

Rasulullahﷺ menjawab, "Mereka adalah ummatku kelak, yang belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tapi mereka merindukanku, mereka melanjutkan perjuanganku, dan tak jarang mereka meneteskan air mata karena menahan rindu padaku, Aku rindu pada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka."
***
Adakah Nabiﷺ kan bersabda, "Kaliankah orangnya, yang telah membuatku menangis karena rindu, yang telah membuat para sahabatku cemburu?"

"Kaliankah orangnya, yang beriman kepada apa yang kubawa meski kita tak berjumpa, yang mengucap shalawat atas namaku meski tak bertemu?"
***
Yaa Rasululloh ... 😭😭😭

Inilah kami...
Yang KATANYA rindu padahal hanya SEDIKIT membaca shalawat dengan lidah kelu.

Yang KATANYA rindu tapi ketika Islam, Al-Qur'an dan Sunnahku dilecehkan kami diam seribu basa.

Yang KATANYA rindu tapi perut kami senantiasa kenyang, bahkan dari yang haram.

Yang KATANYA rindu padahal selalu mengumbar syahwat, suka melihat yang haram.

Yang KATANYA rindu tapi suka su'udzon.

Yang KATANYA rindu padahal gemar ghibah.

Yang KATANYA rindu tapi kikir untuk sodaqah.

Yang KATANYA rindu padahal tak bertanggung jawab mendidik keluarga.

Yang KATANYA rindu tapi suka berkata kotor.

Yang KATANYA rindu padahal hati kami selalu lalai.

Yang KATANYA rindu tapi durhaka kepada kedua orang tua kami.

Kadang kami merasa lelah merawat kedua orang tua kami, padahal itu baru secuil bakti kami, itupun kami sudah merasa puas melayani mereka.

Adakah kami layak jadi ummat dari Nabi seagung engkau dan memperoleh syafaa'atmu?

Ya Allah,
Ya Rabb,
Ya Karim,
Ya Arhamarrahimiin, limpahkan shalawat kepada Nabi Muhammadﷺ, sampaikan salam kami padanya dan atas semua Sahabat dan keluarganya; jadikan kami bersama mereka

Aamiin..Ya Robbal 'Alamin

اللهم صل على محمد وعلى اله وصحبه وسلم

Tebar Semangat, Tebar Manfaat, Kebaikan Didapat..
Read more

Selasa, 25 April 2017

KISAH ISRA' MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW DAN HIKMAHNYA


ISLAMONLIFE - Isra' Mi'raj adalah perjalanan malam hari Rasulullah Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Al Aqsa (Yerusalem-Palestina/Israel), kemudian dilanjutkan menuju langit ke Sidratul Muntaha dengan tujuan menerima wahyu Allah Swt. Ada banyak arti, makna dan hikmah dari peristiwa Isra Mi'raj. Simak sejarah lengkapnya!


Peristiwa Isra Mi'raj secara singkat bisa diceritakan sebagai berikut. Suatu malam, Rasulullah Nabi Muhammad Saw didatangi malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil. Lantas, Rasulullah dibawa ke sumur zamzam.

Di sana, malaikat Jibril membelah dada nabi Muhammad Saw dan mensucikan hatinya menggunakan air zam-zam. Setelah itu, baginda Muhammad Saw disiapkan kendaraan yang bisa berlari secepat kilat bernama buroq.

Diceritakan, bentuk buroq berwarna putih, lebih besar dari keledai tapi lebih rendah dari baghal. Kendaraan buraq juga terdapat pelana dan kendali sebagaimana kuda.

Dalam perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Al-Aqsa, Muhammad Saw ditemani Malaikat Jibril pada bagian kanan dan Mikail menemaninya di sebelah kiri. Mereka melaju mengarungi alam indah ciptaan Allah Swt pada malam hari yang penuh dengan keajaiban dan hikmah.

Banyak peristiwa terjadi sepanjang perjalanan rasulullah Muhammad Saw. Salah satu kisah yang acapkali diceritakan, antara lain Jin Ifrit yang berusaha mengejar dan mencelakai nabi.

Bentuk Masjidil Aqsa di Yerusalem sekarang, lokasi Muhammad Saw naik ke langit

Ada yang bilang Jin Ifrit membawa obor. Ada pula yang bilang bangsa gaib itu mengejar nabi dengan semburan api. Lantas Jibril mengajari nabi untuk membaca doa.

Sontak, Jin Ifrit terjungkal jatuh dan terbakar apinya sendiri. Ada pula peristiwa nabi melihat sekelompok kaum yang menghantamkan batu besar ke bagian kepala sendiri hingga hancur dan kejadian itu berulang kali. Jibril menjelaskan bila mereka adalah manusia yang berat melaksanakan shalat.

Rasulullah juga melihat sekelompok orang yang memilih makan daging busuk ketimbang daging masak segar. Malaikat Jibril pun menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang semasa hidup di dunia melakukan zina, selingkuh. Padahal, mereka sudah punya suami atau istri yang sah secara agama maupun negara.

Kisah perjalanan Isra Mi'raj sebetulnya lebih lengkap dengan banyak peristiwa-peristiwa yang bisa dipetik hikmahnya, tetapi Islamcendekia.com menyajikannya secara singkat agar mudah dipahami dan dicerna.

Sesampainya di Baitul Maqdis atau Al Aqsho, beliau turun dari kendaraan kilat bernama buraq dan mengikatnya di sisi pintu masjid. Rasul pun masuk untuk menunaikan sholat dua rekaat.

Di sana, ternyata ada para nabi as. Shalat pun akhirnya diimami oleh rasulullah saw atas bimbingan Jibril. Beliau lah, Kanjeng Nabi Muhammad Saw adalah imam atau pemimpin para anbiya' dan mursalin.

Setelah itu, Rasulullah saw kehausan dan meminta minum. Malaikat Jibril memberinya dua wadah berisi susu dan khamr (semacam bir, arak, ciu, anggur fermentasi yang memabukkan atau miras). Namun, Muhammad Saw memilih susu.

Jibril berkata, "Sungguh, Engkau memilih fitrah yaitu Islam. Kalau Engkau pilih Khamar, niscaya umat Engkau akan menyimpang dan sedikit yang mengikuti syariat."

Kisah perjalanan menuju langit
Setelah peristiwa isra selesai, yaitu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kini Rasulullah saw harus melanjutkan perjalanan menuju langit yang disebut dengan mi'raj.

Bisa dikatakan, perjalanan malam (Muhammad's night journey to sky and heaven) mirip seperti wisata ke angkasa dan semesta yang dihiasi dengan taburan bintang-bintang, bulan, planet, dan galaksi.

Bedanya, perjalanan malam Muhammad Saw adalah menunaikan tugas spiritual untuk bertemu dengan Allah Swt untuk kemudian disampaikan kepada umatnya. Namun benar, perjalanan istimewa nabi menuju langit sampai lapis tujuh memang hadiah paling istimewa dari Tuhan yang Maha Esa kepada kekasih-Nya, Muhammad.

Kisah bertemu para nabi, surga dan neraka
Peristiwa penting dalam perjalanan di langit sebelum bertemu Allah, Muhammad Saw bertemu dengan Nabi Adam As di langit pertama, ketemu Nabi Isa As dan Nabi Yahya As di langit kedua, bertemu Nabi Yusuf As yang gantengnya seperti bulan di antara bintang-bintang di langit ke tiga.

Selanjutnya, Rasulullah saw bertemu dengan Nabi Idris As pada langit ke empat, Nabi Harun As di langit kelima, Nabi Musa As di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim As di langit ketujuh.

Perjalanan di langit pertama, Nabi Muhammad Saw melihat sesuatu yang mengerikan di sebelah kiri dan hal-hal yang bahagia di sebelah kanan. Itu merupakan gambaran surga dan neraka.


Diceritakan, suatu ketika Kanjeng Nabi Muhammad Saw melihat orang-orang dengan perut yang besar yang dipenuhi dengan ular. Isi perut bisa dilihat dari luar. Malaikat Jibril menjelaskan, mereka adalah manusia yang suka memakan riba.

Riba adalah semacam bunga dalam dunia perbankan modern. Namun, riba lebih ditekankan pada rentenir yang meminjamkan dengan bunga berlebih hingga "mencekik leher" orang yang dipinjami uang. Bukan niat membantu dengan meminjami uang, tetapi justru menjebak dengan bunga untuk keuntungan pribadi semata yang sebesar-besarnya.

Muhammad Saw juga melihat pemandangan mengerikan sebagai gambaran neraka di mana ada orang-orang yang dagingnya dipotong-potong lalu diminta untuk memakannya. Jibril AS pun menjelaskan, mereka adalah orang-orang yang suka menggunjing, ghibah, menjelek-jelekkan orang lain atau "ngrasani" yang diibaratkan memakan daging saudara sendiri.

Sampai di langit 7, Nabi Ibrahim berkata. Setidaknya begini, "Kabarkanlah bahwa surga sungguh sangat indah tanahnya, airnya tawar dan tanawan surgawi adalah subhanallah walhamdulillah walailahaillallah wallahuakbar."

Beliau juga berkata, "Perintahkan umatmu untuk banyak-banyak menanam tanaman surga. Tanaman surga adalah (dzikir) la hawla wala quwwata illa billah."

Kisah sidratul muntaha
Sampai akhirnya perjalanan panjang Muhammad Saw sampai ke Sidratul Muntaha. Gambaran di sana, terdapat sebuah pohon yang besarnya tiada terkira.

Di bawahnya, muncul sungai air jernih nan menawan di mana airnya tidak akan berubah baik bau, warna maupun rasa. Ada pula sungai susu yang putih bersih dan elok dipandang.

Ada juga sungai madu yang mengalir jernih. Di sana juga dihiasi dengan permata zamrud (semacam batu akik termahal). Namun, sesungguhnya gambaran itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata maupun deskripsi. Keindahannya jauh lebih indah dari apa yang ditulis atau dikata-katakan.

Dalam suatu riwayat, setelah Nabi Muhammad Saw melihat surga dan neraka dalam perjalanan Isra' Mi'raj, maka untuk kedua kalinya beliau diangkat menuju Sidratul Muntaha. Di sana, malaikat Jibril mundur sehingga baginda Rasulullah sendirian untuk bertemu, "bertatap muka" atau berjumpa dengan Sang Maha Pencipta, Allah Swt.

Di sebuah singgasana yang tidak bisa dijelaskan dengan kalimat apapun, tempat di mana tidak seorang atau makhluk pun bisa berdiri di sana, Rasulullah Saw dan Tuhan Semesta Alam bertemu. Nabi pun seketika bersujud di hadapan-Nya.

Dalam Hadits Riwayat Muslim,secara singkat menjelaskan, Allah memerintahkan Muhammad Saw dan umatnya untuk melakukan shalat 50 waktu dalam sehari semalam.

Lantas Rasul turun ke langit keenam untuk bertemu Nabi Musa. Di sana, Nabi Musa meminta agar Muhammad Saw meminta keringanan. Baginda naik lagi bertemu Allah dan akhirnya dikurangi 5 menjadi 45. Baginda pun turun lagi bertemu dengan Nabi Musa AS.

Begitu seterusnya hingga akhirnya sampai sholat lima waktu. Namun, Nabi Musa masih menyarankan agar dikurangi. Baginda Saw pun malu untuk bernegosiasi dengan Allah lagi.

Peristiwa itulah yang menjadi cikal bakal, sejarah, asal-usul munculnya aturan sholat dalam agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Setelah itu, beliau turun kemudian naik kendaraan buraq hingga kembali ke Kota Mekah. Saat itu, fajar masih belum tiba.

Pagi harinya, beliau memberitahu mukjizat agung tersebut kepada umatnya. Namun, mereka justru banyak yang mendustakan. Ada pula yang mengatakan Muhammad sudah gila, tukang sihir atau semacamnya.

Orang pertama kali yang percaya dengan peristiwa Isra' Mi'raj adalah Abu Bakar sehingga mendapatkan gelar As Shiddiq.

Makna Isra Miraj dan hikmahnya
Ada banyak makna dan hikmah yang bisa dipetik dari kisah perjalanan malam (night journey) Isra Miraj. Pertama, tentu munculnya kewajiban shalat bagi setiap pemeluk agama Islam atau umat Muslim.

Meski kewajiban, sebaiknya jangan terpaksa menjalankan sholat karena ujungnya tidak ikhlas. Jalani shalat sebagai sebuah kecintaan kita kepada Allah Saw dan RasulNya yang sudah mendapatkan perintah untuk menunaikan sholat.

Hikmah selanjutnya, Nabi Muhammad Saw diberikan gambaran surga dan neraka sebagai balasan bagi setiap perbuatan manusia yang hidup di dunia. Orang yang baik, surga adalah balasannya.

Sebaliknya, orang yang jahat, berzina, membenci orang lain, suka menggunjing, memakan riba, serakah, kejam, dan perbuatan-perbuatan tidak terpuji lainnya adalah neraka balasannya.

Bagaimana agar kita bisa selamat dari siksa neraka? Muhammad sudah membawa Islam untuk kita lengkap dengan petunjuknya, Al Quran. Ikutilah petunjuk itu dengan ilmu dan pengetahuan yang cukup sehingga kita bisa menikmati indahnya surga dan menghindari siksa neraka.

Namun, sebaiknya kita berbuat baik bukan karena surga dan negara, melainkan ikhlas dari hati yang paling dalam karena Allah. Dengan hati dan kesadaran yang ikhlas berbuat baik kepada sesama manusia dan makhluk itulah, Allah secara otomatis akan menyediakan surganya kepada hamba-Nya.

Kisah Isra Miraj dalam Alquran
Peristiwa nyata perjalanan malam Isra' Mi'raj Nabi Muhammad dijelaskan dalam Alquran Surat Al Isra ayat 1. Tidak dijelaskan secara terperinci dalam surat tersebut.

Dalam Alquran, sejarah Isra Miraj hanya dituliskan, setidaknya terjemahan bahasa Indonesia begini, "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (baca: Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aksa yang Kami berkahi sekelilingnya supaya Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat."

Itulah sejarah Isra Mi'raj Nabi Muhammad Saw lengkap yang diceritakan secara singkat, beserta dengan arti, makna dan hikmahnya yang diambil dari kitab Al Anwaarul Bahiyyah dan Dzikrayaat wa Munaasabaat. Wallahu a'lam bishawab.
Read more

Selasa, 18 April 2017

KEISTIMEWAAN YANG DIBERIKAN ALLAH SWT KEPADA RASULULLAH SAW


ISLAMONLIFE - Lima kelebihan yang tidak diberikan kepada orang sebelumnya. Dari Jabir bin Abdullah ra, nabi Muhammad saw bersabda: “Saya diberikan lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelum saya;


Diberi kemenangan dengan rasa takut (yang ditimpakan kepada musuh-musuhku) dalam jarak satu bulan perjalanan,
Bumi dijadikan tempat shalat dan suci untukku, maka siapa pun di antara ummatku yang mendapatkan waktu shalat hendaklah dia melakukannya,
Dihalalkan untukku harta ghanimah dan itu tidak dihalalkan kepada orang sebelum saya,
Diberi syafa’at,
Dahulu nabi diutus hanya kepada kaumnya, tetapi saya diutus kepada seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim),


Keistimewaannya di hari kiamat

Dari Anas ra., nabi Muhammad saw bersabda: “Saya adalah orang pertama yang diberikan syafaat pada hari kiamat nanti, nabi yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat, dan orang pertama yang mengetuk pintu surga” (HR. Muslim).

Keistimewaan lainnya disebutkan di dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Saya adalah pemimpin anak-anak Adam pada hari kiamat nanti, saya orang pertama yang dibangkitkan dari kubur, dan saya orang pertama yang diberi syafaat (oleh Allah) dan orang pertama yang memberi syafaat (kepada ummat manusia).” (HR. Muslim).


Ibadah Beliau


Aisyah ra. Berkata: Rasulullah saw pernah shalat hingga dua kakinya membengkak. Lalu beliau ditegur, beliau menjawab: “Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang bersyukur?”


Nabi Muhammad Saw Wafat

Beliau saw wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah di waktu Dhuha dengan usia 63 tahun.
Read more